Rabu, 25 Juni 2008

RESENSI BUKU


Judul Buku : Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau
Penulis : Zulhasril Nasir
Penerbit : Ombak Yogyakarta
Cetakan I : Agustus 2007
Tebal : xxii + 223 halaman
Peresensi : Lukman Santoso Az, Intelektual Muda NU dan peneliti Pada Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta.

Sejarah merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa. Disadari atau tidak, sejarah sangat berpengaruh terhadap maju dan mundurnya perkembangan sebuah bangsa. Hal ini perlu dipahami sebagai rangkaian dialogis, kritis, dan continue antara pelaku peristiwa masa kini dengan pelaku peristiwa masa lalu demi terciptanya idealisme sebuah negara yang mapan. Sikap kritis dalam membaca sekaligus memahami paparan sejarah menjadi semakin penting, jika dalam konteks pemaparannya didominasi oleh kalangan tertentu, apalagi oleh kalangan penguasa yang tentunya memiliki kecenderungan dan kepentingan tersendiri terhadap realitas masa lalu. Hal inilah yang selama ini menjadi kegelisahan bagi banyak pakar sejarah terhadap kondisi sejarah Indonesia yang notabene telah “dikaburkan” selama tiga dasawarsa lebih. Termasuk dengan sejarah ketokohan Tan Malaka dalam kaitannya dengan gerakan revolusi di Indonesia.

Berlatar dari konteks ini, Zulhasril Nasir melalui buku “Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau” ini, berupaya memotret secara gamblang dan komprehensif perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua selama 30 tahun lebih, serta korelasinya dengan gagasan gerakan kiri yang dilahirkannya. Selain itu, penelitian Zulhasril dalam buku ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya, pertama, merupakan upaya untuk membuktikan hubungan ke-revolusioner-an Tan Malaka dengan demokrasi alam Minangkabau yang merupakan tanah kelahirannya. Kedua, untuk menjelaskan tentang perbedaan ideologi antara Tan Malaka dengan tokoh pergerakan kiri asal Minangkabau lainnya sebagai akibat dari perbedaan penerapan filosofi masyarakat Minangkabau. Ketiga, untuk mengkaji faktor kepeloporan orang Minangkabau sebagai pendorong pergerakan kiri di tanah air dan di semenanjung Malaya.

Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam dua jilid. Poeze kemudian melanjutkan buku kisah perjalanan hidup Tan Malaka ini sampai akhir hayatnya pada 1949, yang dalam buku tersebut diungkap mengenai lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur dan siapa yang menembaknya. Penelusuran Poeze ternyata tidak hanya berhenti disitu, pada 8 Juni 2007 lalu, di Universitas Leide Belanda, Poeze meluncurkan buku yang berjudul ‘Verguisd en Vergeten, Tan Malaka; De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1959’. Buku setebal 2194 halaman ini di jual seharga 99,90 euro di Eropa, dan cukup mendapat apresiasi dari halayak pembaca.

Tan Malaka yang lahir di Sumatera Barat tahun 1896, dikenal sebagai tokoh gerakan kiri yang gigih memperjuangkan gagasan revolusioner anti penjajahan dan menuntut kemerdekaan 100 persen. Namun, sejak era Orde baru, namanya telah dihapus dalam kamus sejarah Indonesia, atau dalam bahasa para ahli peneliti, Tan Malaka telah menjadi “off the record” dalam sejarah Orde baru. Bahkan, gelar pahlawan nasional yang disematkan Soekarno padanya tidak pernah disebut lagi. Hal ini apakah merupakan kebodohan Orde baru yang menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang terlibat terhadap berbagai pemberontakan, padahal kenyataannya Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927, apalagi pemberontakan PKI Madiun 1948. Selain itu, partai yang didirikannya, yakni partai Murba telah berseberangan dengan PKI dalam berbagai peristiwa, jika itu yang menjadi persoalan.

Dalam kondisi ini, Tan Malaka mungkin lebih cocok disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian, karena Ia berpuluh-puluh tahun telah berjuang bersama rakyat, namun kemudian dibunuh dan dikuburkan disamping markas militer di sebuah desa di Kediri pada 1949, tanpa banyak yang tahu. Padahal ia lebih dari tiga dekade merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Ini dapat dilihat dari ketika Tan Malaka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, yakni dengan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris dan Amerika. Menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Philipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia.

Penelaahan Zulhasril dalam buku ini tampaknya lebih memposisikan gerakan kiri dalam konteks regional Asia Tenggara. Bagaimana cara atau proses pembentukan jaringan kiri tersebut, sejauh mana faktor etnisitas berperan dalam pembentukannya, serta bagaimana berbagai surat kabar kiri yang terbit pada masa itu turut berperan di Hindia Belanda dan di Malaya dalam mengiringi perkembangan gerakan kiri. Penggunaan istilah kiri dalam buku ini, tampaknya memiliki makna yang lebih longgar. Karena secara historis -politik, istilah itu pada mulanya digunakan untuk menyebut anggota parlemen di Prancis yang terbentuk sesudah revolusi Prancis yang duduk disebelah kiri dari Ketua Dewan. Jadi kelompok yang duduk disebelah kanan yang dianggap moderat, sedangkan yang dibagian kiri yang dipandang lebih progresif atau revolusioner. Namun, dalam perkembangannya istilah kiri kemudian dipahami sebagai gagasan untuk menghapuskan hak-hak sosial istimewa, segala bentuk penindasan kolonial, pembatasan hak berbicara dan berekspresi serta menganjurkan kebebasan dan berkeadilan.

Selain itu, Zulhasril dalam buku setebal 223 halaman ini, juga memaparkan tabel yang menggambarkan mobilitas Tan Malaka secara intensif tanpa henti didalam negeri maupun lintas benua selama berpuluh tahun. Ini menurunya penting, karena disadari atau tidak, jarang sekali ditemukan dalam sejarah nasional, seorang pemikir yang berjuang dalam situasi konflik terus-menerus menyebarkan pemikiran bersamaan dengan aktifitas perjuangannya didalam negeri serta menembus kancah pergerakan bangsa lain. Sehingga dalam kerangka ini, penulisan sejarah Tan Malaka menjadi sangatlah berarti untuk membangun atau mengkonstruksikan apa yang telah terjadi pada masa lampau, dipedomani pada masa sekarang dan dipakai untuk referensi ke masa depan. Maka, senada dengan apa yang dikatakan Frederick Jameson (1981), bahwa menulis sejarah juga bermakna menjadikan teks itu sebagai kekuatan (power). Karena sejarah memiliki pengaruh besar dalam pembangunan identitas budaya. Maka, buku ini patut diapresiasi positif, sebagai gerbang pembuka menuju sejarah Indonesia yang lebih obyektif.

Sumber : http://gp-ansor.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar